Kepulauan Maluku Tenggara Sentra Rumput Laut
Selasa, 14 Desember 2010 08:20 WIB | 561 Views
Kepulauan Maluku Tenggara diprogramkan menjadi sentra pengembangan dan budidaya rumput laut skala besar guna memenuhi kebutuhan ekspor nasional.
"Jadi sentra pengembangan dan budidaya rumput laut diprogramkan di Kepulauan Maluku Tenggara, tidak hanya di Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), tetapi mulai dari Kepulauan Aru, Tual hingga Kabupaten Maluku Barat Daya," kata Deputi Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Bidang Pengembangan Sumberdaya, Jamaluddien Malik, di Ambon, Senin.
Ditemui di sela rapat koordinasi percepatan pembangunan dan penanggulangan kemiskinan di Maluku, Jamaluddien menyatakan seluruh wilayah di kepulauan Maluku Tenggara akan dijadikan pusat pengembangan dan budidaya dan industri rumput laut skala besar di Idonesia Timur.
Secara geografis, katanya, wilayah kepulauan Maluku Tenggara memiliki banyak teluk dan sangat cocok sebagai lahan budidaya rumput laut.
Dia mengaku telah melihat produksi rumput laut dari Saumlaki dan berdasarkan hasil ujicoba mutunya nomor satu dibandingkan dengan daerah lain, sehingga dengan memperluas klaster-klaster baru di kawasan itu maka akan menjadikan budidaya rumput laut sebagai salah satu produk unggulan daerah setempat.
"Pangsa pasar rumput laut terbuka luas. Yang terpenting saat ini mutu harus tetap dijaga, baik kuantitas maupun kwalitasnya," katanya.
Dia menandaskan, Kementrian PDT selama tahun 2010 telah melakukan beberapa program intervensi dalam rangka mendorong percepatan pembangunan di Maluku sebagai salah satu daerah tertinggal dengan mengucurkan dana sebesar RP57,49 miliar untuk pengembangan rumput laut dan penangkapan ikan.
Kucuran dana tersebut meliputi Dana Alokasi Khusus bidang sarana dan prasarana pembangunan(DAK-SPP) sebesar Rp 12,28 miliar di sembilan Kabupaten, Program Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah Tertinggal (P2KPDT) Rp7,5 miliar di delapan Kabupaten, Program Percepatan Pembangunan Insfrastruktur Pedesaan Daerah Tertinggal (P2IPDT) Rp3,93 miliar untuk lima kabupaten.
Sementara dana untuk membantu program Percepatan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Daerah Tertinggal (P4DPT) sebesar Rp4,5 miliar di satu kabupaten, Proyek Percepatan Pembangunan Sosial Ekonomi Daerah Tertinggal (P2SEDT) Rp600 juta di enam Kabupaten, Percepatan Pembangunan Wilayah Perbatasan (P2WP) Rp3,1 miliar di tiga Kabupaten dan Program Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK) sebesar Rp25,58 miliar tersebar di lima Kabupaten.
"Secara umum alokasi dana pembangunan tersebut lebih banyak difokuskan untuk memenuhi moda transportasi, infrastruktur dasar dan peningkatan pendapatan masyarakat melalui pengembangan budidaya laut dan penangkapan ikan," katanya.
Jamaluddien menjelaskan khusus untuk program P2KPDT, alokasi dana diperuntukan pengembangan rumput laut, sebab hampir seluruh perairan daerah tertinggal di Maluku cocok untuk budidaya rumput laut
"Terutama di Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat dan Kepulauan Aru sangat cocok untuk pengembangan komoditas unggulan ini dalam skala besar," ujarnya.
Dia menambahkan bahwa pabrik pengolahan rumput laut sedang dibangun di MTB untuk skala industri menengah, diharapkan selesai pada bulan ini (Desember 2010).
Staf ahli Unit Kerja Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Willy Sabandar berharap, program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Pemrov Maluku harus tepat sasaran sehingga berdampak bagi peningkatan perekonomian di daerah ini.
"Kami akan mendorong Pemerintah Pusat untuk memberikan bantuan ke Maluku, namun yang terpenting konsep pemberdayaannya jelas sehingga manfatnya benar-benar dirasakan masyarakat," ujarnya
Dia optimistis kekayaan sumber daya alam yang melimpah di Maluku jika dikelola dengan benar akan memberikan dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat di daerah ini.
"Selain budidaya perikanan, sektor pariwisata dan perkebunan juga merupakan unggulan terutama untuk rempah-rempah seperti cengkeh dan pala harus dikembangkan dan didorong untuk kebangkitan perekonomian di Maluku," katanya.Editor:
COPYRIGHT © 2012