Sedikitnya 25 kepala keluarga atau 176 warga Batu Gantung, Nusaniwe, Kota Ambon, masih mengungsi menyusul tragedi longsor tanah dan batu tebing karang, Kamis, yang mengakibatkan delapan orang meninggal dan 10 rumah rusak berat.

"Kami masih mengungsi ke rumah saudara dan belum berani kembali ke rumah karena khawatir tebing karang dengan ketinggian sekitar 100 meter itu akan roboh lagi," ujar salah seorang warga Batu Gantung Cak Watwahan di Ambon, Jumat malam.

Dia mengaku mengungsikan 11 anggota keluarganya ke rumah saudaranya untuk jangka waktu tidak tentu, mengingat saat ini masih  musim hujan sehingga kemungkinan bencana dapat terjadi setiap saat.

Ia juga mengatakan selama hidup puluhan tahun di lokasi tersebut belum sekali pun pernah mengalami bencana longsor tebing karang.

"Ini bencana pertama dan tebing karang yang longsor besar sekali, malah batunya lebih besar dari mobil angkot, sehingga menghancurkan 10 rumah warga termasuk rumah Keluarga Noya yang rata dengan tanah dan tujuh anggota keluarganya meninggal seketika karena tertimpa bangunan rumah," katanya.

Warga lain, Renold Alfons, juga mengungsi ke rumah saudaranya karena rumah yang ditinggali bersama orang tua dan keluarganya hancur akibat bencana itu.

"Untuk sementara kami mengungsi dan belum bisa kembali karena rumah rusak parah dan perlu perbaikan total," katanya.

Dia juga mengatakan ayahnya, Simon Alfons, dan beberapa anggota keluarga lain masih merasa trauma dan belum berani kembali ke rumah.

"Ayah saya masih trauma karena nyaris tertindih bongkahan karang berukuran besar yang menghancurkan sebagian besar tembok rumah kami," katanya.

Selama mengungsi para korban mendapatkan bantuan tanggap darurat dari Pemerintah Kota Ambon dan Pemprov Maluku selama seminggu terutama bahan makanan serta kebutuhan lain.

Warga yang mengungsi umumnya berada di rumah mereka saat pagi hingga siang, dan saat hujan lebat mereka akan meninggalkan rumahnya karena khawatir longsoran akan terjadi sewaktu-waktu.

Jumlah korban tewas akibat longsoran tebing karang yang terjadi Rabu (16/6) itu sebanyak delapan orang, tujuh di antaranya adalah keluarga Paulus Noya (57) bersama istrinya Merry (47), dua anaknya Herman (14) dan Delsia (8) serta dua orang cucu yakni Philip (3) dan Dede berumur sembilan bulan serta Omi Halatu (64).

Longsor tebing karang itu diperkirakan akibat gempa tektonik berkekuatan 4,7 SR yang mengguncang Kota Ambon, Rabu petang, dan getarannya terasa  kuat karena episentrumnya hanya sekitar 10 kilometer di sekitar perairan Desa Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, serta hujan lebat yang mengguyur sejak petang hingga Kamis pagi.

Sedikitnya 10 unit rumah rusak parah karena tertimpa  bongkahan batu karang berukuran besar, serta seorang warga luka berat yakni Bace Timisela dan tujuh lainnya luka ringan.

Sebelumnya hujan lebat yang mengguyur Kota Ambon pada Sabtu (12/6) malam juga menewaskan dua balita, masing-masing Muhammad Fahril (2,5) dan Rian (1,2 tahun) di kawasan Wara Kuning, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Editor:
COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Kirim Komentar