Objek wisata pantai yang menyebar di Kota Ambon seperti pantai Liang, Namalatu, Pintu Kota dan pantai Natsepa pada era 1960-an memang masih sepi dikunjungi masyarakat yang ingin menghabiskan liburan akhir pekan mereka.
Awalnya, kawasan tersebut hanya diramaikan oleh aktivitas penduduk pesisir yang berprofesi sebagai nelayan yang menambatkan perahu mereka usai melaut.

"Siapa sangka, kalau keindahan alam pesisir Pantai Natsepa yang memiliki butiran pasir putih dan tergolong dangkal ini bisa menjadi sumber mata pencaharian hidup kami setelah dijadikan sebagai tempat rekreasi yang ramai dikunjungi warga setelah akhir 1970-an hingga 1980-an," kata Ny. Tinne Pattirane (55), salah satu penjual rujak di pantai Natsepa.

Hamparan pasir putih yang memanjang lebih dari satu kilo meter dengan deburan ombak yang memecah buih di bibir pantai Natsepa ini menimbulkan pesona tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya. Hal tersebut jadi tarik bagi pengunjung untuk berendam di laut atau berjemur di tepian.

Sebelum ramai dikunjungi masyarakat kota maupun sejumlah turis mancanegara, pantai Natsepa sering dijadikan tempat kemping atau berkemah oleh para pemuda, kebaktian pantai, kegiatan pramuka, hingga lomba membuat patung pasir oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, yang sekarang disebut Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora).

Makin meningkatnya jumlah kunjungan masyarakat untuk berekreasi di pantai yang tetap tertata indah dan asri secara alami ini, membuat pemerintah daerah turut mengembangkannya sebagai sebuah lokasi objek wisata andalan daerah.

Secara perlahan tapi pasti, masyarakat sekitar pantai yang terletak di Desa Suli, Kecamatan Salahutu (Pulau Ambon) Kabupaten Maluku Tengah ini mulai berbondong-bondong membuka bisnis kecil-kecilan dengan menjual rujak, sagu gula, kelapa muda, jagung rebus dan aneka makan ringan khas desa itu.

Rujak Natesepa memang sudah dikenal sejak dahulu, karena harganya yang murah meriah dan mudah terjangkau.

"Bahan-bahan dasarnya seperti buah mangga, nanas, belimbing, cabe rawit, ubi jalar, gula aren dan kacang tanah mudah didapat untuk diracik menjadi rujak yang dijual seharga Rp7.000 per bungkus," kata Yohana Sitanala, seorang penjual rujak lainnya.

Tidak sebatas menjual aneka makanan ringan khas Desa Suli, masyarakat setempat juga menjadikan objek wisata Pantai Natsepa sebagai sumber penghidupan dengan menyiapkan bantal pelampung, tikar dan perahu untuk disewakan kepada pengunjung.

J. Pattirane (46), usahawan sewa pelampung dan tikar mengaku kegiatan yang dijalankannya sejak tahun 1990-an bisa dijadikan usaha sampingan untuk mendapatkan rezeki bagi keluarganya.

Pria ini mengaku memiliki 20 bantal pelampung dengan harga Rp5.000 sekali sewa sehingga dalam sehari memperoleh Rp100.000, jika pengunjungnya lagi ramai saat liburan sekolah.

Fasilitas penunjang lainnya yang disiapkan di pantai ini berupa kamar mandi umum juga sudah disiapkan dalam jumlah banyak sehingga selesai berendam di laut, warga langsung membersihkan diri dengan air tawar.

Penataan

Jelang pelaksanaan kegiatan internasional Sail Banda 2010, Pemprov Maluku melakukan pembenahan objek wisata Pantai Liang dengan membuat tempat khusus bagi para penjual jajanan dan aneka makanan ringan agar tidak menutupi jalan raya.

"Ruas jalan dari arah Kota Ambon menuju Desa Tulehu dan Liang yang melintasi Desa Suli memang sempit dan berfungsi dua arah, sehingga kebijakan pemerintah provinsi (pemprov) membangun tempat berjualan bagi pedagang sangat tepat," kata Andi Salenussa, seorang pejaga pintu masuk Pantai Natsepa.

Dinas Pekerjaan Umum Maluku membangun tempat khusus berjualan bagi pedagang dengan mengecor lantai berukuran sekitar 100 meter lebih dan lebarnya 2 meter di atas talud penahan ombak.

Tujuannya, agar arus lalulintas di depan tempat objek wisata pantai ini lebih lancar karena kios-kios pedagangnya akan ditata rapih dan tidak memenuhi bahu jalan.

Pedagang rujak lainnya, Ny. Omi (54) menuturkan, selain menyiapkan tempat jualan, Pemprov melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Maluku juga menyumbangkan bangku panjang dan tenda-tenda jualan berukuran 3 x 3 meter setinggi 2 meter bagi 40-an penjual rujak.

"Tenda berwarna-warni yang terbuat dari bahan plastik ini akan dipasang berjejer di sepanjang lantai beton yang sedang dikerjakan, sehingga nantinya kalau dilihat dari laut seperti restoran apung di bibir Pantai Natsepa," ujarnya.

Dia berharap, tenda-tenda ini harus dipasang pada landasan yang kokoh agar tidak mudah rusak diterpa angin kencang, ketika tiba musm badai.

Karena pengalaman membuat tempat jualan dari atap daun sagu atau pun terpal selalu rusak ketika datang musim badai dan deburan ombak yang naik ke badan jalan antara bulan Juni hingga Agustus.

Peranan pihak swasta dalam memperindah lokasi objek wisata ini juga ditandai dengan pembukaan hotel Aston bertaraf internasional, sehingga wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang tidak akan kesulitan mencari tempat penginapan.

"Meskipun di Pulau Ambon saat ini banyak terdapat objek-objek wisata pantai dan pemandian air panas, tapi Natsepa masih tetap menjadi daerah tujuan wisata pantai andalan masyarakat yang selalu dikunjungi," katanya.  (Daniel Leonard)

Editor:
COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Kirim Komentar