Orang Australia Lihat China sebagai Ancaman Militer
Senin, 25 April 2011 16:35 WIB | 534 Views
Hampir separuh populasi Australia percaya bahwa China akan menjadi ancaman militer bagi Australia pada 20 tahun mendatang dan mayoritas orang Australia yakin Pemerintah Canberra mengizinkan terlalu banyak investasi dari China, demikian hasil jajak pendapat yang dirilis Senin waktu setempat.
Survei terhadap 1.002 orang Australia itu dilakukan oleh kelompok lobi kebijakan luar negeri Lowy Institute. Didapati bahwa 44 persen responden melihat China sebagai ancaman bagi pertahanan Australia yang terus bertumbuh.
Dari para responden didapati pula bahwa 87 persennya berpendapat kelak Australia akan terlibat konflik dengan China akibat pandangan politik luar negerinya yang menjadi sekutu Amerika Serikat.
Hasil survei itu dirilis saat Perdana Menteri Julia Gillard sedang menuju China dalam kunjungan kenegaraan pertamanya ke negeri tirai bambu.
Jajak pendapat menyebutkan 75 persen orang Australia berpendapat pertumbuhan ekonomi China berdampak positif buat negeri kangguru. Namun 57 persen menyatakan kekhawatiran terlalu banyaknya investasi China di Australia.
Mayoritas responden, yakni 58 persen, juga menilai Pemerintah Canberra tidak cukup kuat menekan Beijing dalam hal pelanggaran hak asasi manusia. Angka ini turun dari yang tahun sebelumnya mencapai 66 persen, demikian disebutkan oleh peneliti dari Lowy Fergus Hanson.
Jumlah responden yang mengira Australia harus bergabung dengan negara-negara lain untuk membatasi pengaruh China pun turun dari tahun sebelumnya 55 persen menjadi 50 persen.
Hampir separuh responden (52 persen) mendukung keterlibatan Australia dalam koalisi mendukung Korea Selatan bila negeri itu benar-benar diserang oleh Korea Utara.
"Dan jika China, mitra dagang terbesar Australia, mengintervensi dan membantu Korea Utara dalam memerangi Korea Selatan, 56 persen responden menilai Australia harus mengirim pasukan membantu Korea Selatan," kata Hanson.
Dalam kunjungannya ke China, yang dimulai Senin, Perdana Menteri Gillard telah berjanji untuk meminta China membendung friksi antara Korea Utara dan Selatan di Semenanjung Korea.
Michael Wesley, Direktur Lowy Institute, mengatakan bahwa jajak pendapat itu merupakan refleksi dari kompleksitas hubungan Australia-China, di mana volume dagang antara keduanya mencapai 50,6 miliar dolar Amerika per tahun.
"Hasil survei ini menunjukkan betapa sulitnya PM Gillard menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi dengan perhatian publik Australia terkait pelanggaran hak asasi manusia di China, ekspansi militer, dan persepsi negatif soal investasi China di Australia," kata Wesley.Editor:
COPYRIGHT © 2012