Siswa SD Ambon Hadiri "Science Film Festival"
Jumat, 25 November 2011 08:54 WIB | 476 Views
Shariva Alaidrus
Dokumen - Young Explorers in Africa, salah satu film yang diputar dalam Science Film Festival-Goethe Institut tahun 2011 (Association Science Television-Film)
Berita Terkait
Ambon (Antara Maluku) - Ratusan siswa SD se kota Ambon menghadiri "Science Film Festival" yang digelar Goethe Institut (Pusat Kebudayaan Jerman) di Aula Korem XVI/Pattimurra Ambon.
Ratusan pelajar SD di Ambon hadir dalam festival film ilmiah tersebut sejak Kamis (24/11) untuk menyaksikan pemutaran 10 film dokumenter berdurasi sembilan hingga 43 menit, yang bercerita tentang alam dan makhluk hidup.
Film-film yang ditayangkan yakni, "The Forest I - Realm Of Shadow", "I Got It! Volcano", "Nine And A Half : Bees In Danger", "Boababs, Between Sky & Earth", "Fascination Knowledge : Sharks", "Young Explorer In Africa : Lae On The Trail Of Gorillas", "Dandelion : Wonderful Forest - The Labyrinth Of Trees", "Chasing Sleep (Sleep Demystified)", dan "No Corals, No Maldives".
Pemutaran film ini pun dibagi atas dua sesi, untuk siswa di bawah usia 12 tahun berlangsung pada pukul 10.00 WIT hingga 12.00 WIT. Sedangkan bagi pelajar 12 tahun ke atas digelar pada pukul 13.30 WIT - 15.30 WIT.
Tidak hanya menyaksikan film dokumenter, para siswa SD juga diberikan kuisioner oleh Goethe Istitut, berupa pertanyaan-pertanyaan untuk menilai sejauh mana kemampuan mereka menangkap pesan moral yang disampaikan dalam film-film dokumenter ilmiah tersebut.
Science Film Festival yang digelar oleh lembaga kebudayaan Jerman Goethe Istitut bekerjasama dengan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, dan Yayasan Parakletos, berlangsung selama dua hari, yakni 23 - 24 November 2011.
"Seru, asyik. Ini pertama kalinya saya menyaksikan film-film seperti ini," kata Echa Deriks, siswa SD Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Ambon, kepada ANTARA di Ambon, Rabu.
Siswi kelas empat itu mengatakan, kendati tidak seperti film yang biasa ia tonton di rumah, dirinya merasa senang bisa menyaksikan film-film dokumenter bertema ilmiah, karena bisa mendapatkan banyak tambahan pengetahuan darinya.
"Filmnya bagus-bagus. Saya jadi bisa belajar banyak hal tentang alam dan bagaimana proses daur hidup yang selama ini terjadi," ujarnya.
Senada dengan Echa Deriks, teman sekelasnya Senda de Fretes juga mengaku mendapatkan banyak ilmu dari film-film dokumenter tersebut.
"Ini juga ada dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang saya dapatkan di sekolah, tapi yang ini lebih detail dan menerangkan lebih banyak dari yang di sekolah," katanya.
de Fretes mengaku sangat tertarik dengan "Chasing Sleep (sleep demystified)" yang berdurasi 24 menit. Film tresebut menjelaskan bagaimana pentingnya tidur yang cukup, dan proses kerja otak saat manusia tidur.
"Saya baru tahu tentang proses kerja otak saat kita tidur. Selama ini kita sering mengabaikan tidur, padahal jika waktu tidur kita kurang maka akan berpengaruh terhadap kinerja otak kita," katanya. Editor: John Nikita
COPYRIGHT © 2012