Ambon (Antara Maluku) - Personil polisi harus bertindak tegas, terukur, dan netral saat mengatasi pertikaian antarwarga Porto - Haria, pulau Saparua, kabupaten Maluku Tengah yang kembali terjadi pada Rabu (30/11) malam hingga Kamis (1/12) subuh.

Tokoh masyarakat asal Porto dan Haria, di Ambon, Kamis, mengatakan, personil Sabhara maupun Brimob kurang tegas sehingga mengakibatkan sejumlah warga meninggal dan rumah terbakar akibat insiden bentrokan itu.

Hengky Hattu, warga asal desa Haria, menyesalkan pertikaian warga dua desa bertetangga Porto dan Haria, padahal ada pertalian saudara berdasarkan rumpun keluarga (marga) di antara mereka.

"Saya sedang tugas di Jakarta saat diberitahu bahwa pertikaian kembali terjadi pada Rabu (30/11) malam. Saya sampai  menitikkan air mata, karena sendi - sendi kehidupan orang basudara yang menjadi warisan leluhur telah terkoyak," ujarnya.

Hengky, yang juga Pembantu Rektor II Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, mengatakan, pihaknya sejak awal telah memperingatkan Kapolres pulau Ambon dan pulau - pulau Lease, AKBP Soeharwiyono, agar menginstruksikan personil di perbatasan Porto - Haria untuk bertindak tegas, terukur, dan netral karena warga dua desa bertetangga itu memang memiliki karakter agak kasar.

"Aparat tidak boleh lengah terhadap pergerakan apapun yang dilakukan warga kedua desa, yang hanya dibatasi jalan raya itu. Jadi bila ada yang mencoba memprovokasi massa maka harus diamankan, dan bila tindakannya mengarah ke anarkis, perlu dilumpuhkan untuk membuat efek jera," tandasnya.

Hal senada dikemukakan Demmy Hattu, warga asal desa Porto.

Ia menyatakan pertikaian Porto-Haria berkelanjutan karena kurang netralnya aparat keamanan dalam mengamankan perbatasan kedua desa tersebut.

"Kami memahami dalam pengamanan dibutuhkan pendekatan persuasif oleh personil polisi, tapi jangan melakukan pembauran berlebihan yang membuat mereka tidak bisa bertindak tegas dan netral saat terjadi ketegangan hingga pertikaian," tegasnya.

Demmy, yang juga Wakil Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi DPD PDI P Maluku, mengimbau Pemprov Maluku, Pemkab Maluku Tengah dan Majelis Pekerja Lengkap Sinode Gereja Protestan Maluku agar proaktif mengatasi pertikaian warga Porto dan Haria yang sering terjadi, bahkan sejak puluhan tahun lalu.

"Saya tidak inginkan ada kesan pembiaran dilakukan pihak - pihak berkompeten. Betapapun harus disadari bahwa pertikaian ini terus berulang, mulai 14 Agustus, kemudian 20 September, 26 November dan berlanjut hingga hari ini Kamis (1/12)," katanya.

Catatan ANTARA, pertikaian pada 14 Agustus dan 20 September berakibat sejumlah warga kedua desa luka dan beberapa rumah terbakar maupun rusak.

Pada 26 November, seorang warga bernama  Junus Latupeirissa (25) meninggal, dan pada Rabu (30/11) hingga Kamis (1/12) tercatat Ely Lopulalan, Busu Takaria dan Yopi Ayal meninggal, dan sejumlah rumah terbakar.

Editor: John Nikita
COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Kirim Komentar