JMP Matikan Sumber Pendapatan Tukang Perahu Tradisional
Selasa, 6 Desember 2011 15:35 WIB | 236 Views
Stefano Lilinger
Ambon (Antara Maluku) - Pembangunan jembatan merah putih (JMP) yang menghubungi Galala-Poka kota Ambon, dinilai dapat mematikan sumber pendapatan tukang perahu tradisional.
"Pembangunan JMP akan berdampak bagi kehidupan keluarga kami, karena penghasilan turun karena penumpang berkurang," ujar salah seorang tukang perahu galala-Poka, Angger Guntur, saat diminta tanggapan tentang dampak pembangunan jembatan tersebut, di Ambon, Selasa.
Menurutnya, perahu tradisional yang beroperasi di Ambon setiap hari berjumlah 200 buah, dan disukai mahasiswa Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon.
"Dengan menggunakan jasa perahu, mereka lebih cepat tiba di kampus dibandingkan menggunakan kapal penyeberangan feri," katanya.
Perahu tradisional di teluk Ambon itu juga menjadi lapangan kerja bagi sebagian masyarakat Galala dan Poka sejak turun-temurun. Bahkan ada pejabat yang dulunya berprofesi sebagai pendayung perahu untuk membayar uang kuliah.
"Sekarang ada mahasiswa yang mendayung perahu untuk membayar uang kuliah. Jadi perahu tradisional sangat membantu ekonomi keluarga dan mahasiswa," ujar Guntur.
Menurutnya, mestinya sebelum pembangunan JMP pemerintah daerah mengkaji secara komprehensif dampak yang akan ditimbulkan, bukan hanya secara parsial dan tidak hanya melihat kepentingan masyarakat kelas atas saja.
"Kami minta pemerintah memberikan perhatian kepada kami, dalam bentuk kompensasi selama pengerjaan jembatan. Apalagi setelah jembatan selesai dikerjakan perahu kami sudah tidak bisa beroperasi," kata Guntur.
Dia pun menyangsikan pernyataan Pemprov Maluku yang menyatakan perahu tradisional tetap diberdayakan karena Teluk Ambon akan dijadikan kawasan wisata.
"Mana ada wisatawan yang mau beriwisata di bawah jembatan. Jangankan di teluk Ambon, lokasi wisata lainnya di Pulau Ambon yang sudah terkenal saja jarang dikunjungi wisatawan. Ini ide gila dari pemerintah daerah," ujar Guntur.
Dia berharap Pemprov Maluku turun ke lapangan untuk berdiolog dengan masyarakat pengemudi perahu tradisional dan melihat langsung kondisi yang sebenarnya.
"Kami tidak punya kepentingan apa-apa dan hanya memperjuangkan masa depan dan kesejahteraan keluarga. Kami juga tidak menolak pembangunan jembatan tersebut, hanya saja pemerintah harus melihat nasib kelurga kami," kata Guntur.
Editor: John Nikita
COPYRIGHT © 2012