Jumat, 22 September 2017

Warga Ambon Kunjungi Kapal Selam KRI Nanggala

id Ambon, Kapal
Warga Ambon Kunjungi Kapal Selam KRI Nanggala
Ratusan warga Kota Ambon mengunjungi kapal selam KRI Nanggala yang singgah di Lantamal IX/Ambon di kawasan Desa Halong, Kamis (18/5) (Penal-9)
Ambon, 18/5 (Antara Maluku) - Ratusan warga di Ambon mengunjungi Kapal Selam TNI Angkatan Laut KRI Nanggala 402 kelas U-209/1300 yang berlabuh di dermaga Irian Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) IX/Ambon, Maluku, Kamis.

Sejak sehari sebelumnya warga yang berasal dari berbagai kawasan di Kota Ambon mulai ramai mengunjungi dermaga Irian Lantamal IX untuk melihat dari dekat kapal selam yang berlabuh untuk bekal ulang (bekul), sebelum melanjutkan Operasi Siaga Tempur Perbatasan (Trisila) 2017.

Kesempatan melihat dari dekat armada perang TNI AL itu dimanfaatkan warga untuk "selfie" atau swafoto dengan latar Kapal Selam KRI Nanggala-402 menggunakan kamera "smartphone" mereka.

Seorang warga mengaku senang karena dapat melihat wujud kapal selam secara langsung. "Senang sekali, selama ini saya hanya melihatnya di film," katanya.

Para awak KRI Nanggala-402 yang mengawal kunjungan warga tersebut juga memberi penjelasan kepada warga yang banyak bertanya mengenai pengalaman mereka selama berlayar di bawah air.

Kapal Selam Laut KRI Nanggala-402 kelas U-209/1300 dibuat oleh Howaldtswerke, Kiel, Jerman Barat, pada 1981 dan telah diperbaiki secara menyeluruh (overhaul and retrofit) selama 24 bulan di dermaga Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan, pada 2012.

Kapal ini tercatat sebagai kapal selam kedua dalam jenis kapal selam kelas cakra di bawah kendali satuan kapal selam Koarmatim dan KRI kedua yang menyandang nama Nanggala.

Armada tempur TNI Angkatan Laut berdiameter enam meter dengan panjang 60 meter dan dilengkapi dengan Combat Management System (CMS) dari Norwegia itu, dipimpin oleh Mayor Laut (P) Yulius Azz Zaenal sejak November 2016.

"Pangkalan kami di Surabaya, dari sana kami berkeliling untuk menjalankan misi Operasi Trisila di perbatasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), baik di timur maupun utara yang berbatasan dengan wilayah Filipina dan Malaysia, juga selatan yang berbatasan dengan Australia dan Timur Leste," kata Yulius Azz Zaenal.

Ia mengatakan kapalnya memuat 50 kru yang terbagi dalam tiga departemen, yakni departemen operasi, permesinan dan elektronika. Setiap kali berlayar, para kru tersebut bergantian untuk siaga berjaga dan istirahat setiap empat jam sekali. Karena itu tempat tidur yang disediakan hanya 36 buah.

Sebelum berlabuh di dermaga Irian Lantamal IX/Ambon pada 17 Mei 2017 untuk mengisi ulang perbekalannya berupa bahan bakar, 40 ton air tawar dan logistik lainnya, KRI Nanggala-402 telah berkeliling di dalam lautan kurang lebih tiga minggu.

Karena itu, selain bekul, para krunya memanfaatkan kesempatan berlabuh untuk olahraga di Lantamal IX dan berekreasi di Kota Ambon guna menghilangkan tekanan dan kejenuhan berada lama di dalam lautan.

"Sekali bekul air tawar maksimal 40 ton, jadi airnya dihemat hanya digunakan untuk memasak, minum, cuci muka, gosok gigi dan berwudhu, yang diperbolehkan mandi hanya juru masak dan orang-orang tertentu, lagi pula kalau mau mandi di sini dingin sekali, suhu kapal harus di bawah 18 derajat celcius," ujarnya.

Dalam menjalankan misi Operasi Trisila, selain mengawasi ancaman pelanggaran perairan yurisdiksi nasional, KRI Nanggala-402 juga mengawasi aktivitas pencurian ikan maupun pengiriman hasil pembalakan liar ke luar wilayah Indonesia.

KRI Nanggala akan bertolak dari dermaga Irian Lantamal IX/Ambon untuk kembali melanjutkan misi Operasi Trisila pada 19 Mei 2017.

"Operasi Trisila ada sepanjang tahun, tapi kapal ini diberi waktu 45 hari perintah operasi. Fungsi kapal ini sendiri untuk intelijen, di perairan kami mencatat data-data tertentu," kata Yulius.

Sebagai salah satu armada terdepan dalam menjaga perairan Indonesia, dia dan kru memiliki kebanggaan kebanggaan tersendiri menjadi prajurit yang khusus bertugas di dalam lautan.

"Kebanggan yang kami jadikan patokan dalam bertugas di lautan, sebagai prajurit kapal selam ada nilai lebih dari pada prajurit biasa. Dukanya karena kita meninggalkan keluarga karena selama menjalankan misi, telepon keluar hanya untuk berkomunikasi dengan Panglima TNI, menggunakan gelombang HF yang frekuensinya berbeda dengan kapal atas air," katanya.

Editor: John Nikita

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga