1.000 Perempuan dan Lansia Waspada Bencana

1.000 Perempuan dan Lansia Waspada Bencana

Menteri PPPA Yohana Yembise berbincang dengan kaum perempuan dan lansia dalam gerakan waspada bencana, di Jakarta, Sabtu (15/10) (Humas Kemen-PPPA)

Jakarta, 15/10 (Antara) - Indonesia telah mengalami kurang lebih 1.500 kejadian bencana yang terjadi di sejumlah tempat. Setiap terjadi bencana, korban perempuan jumlahnya 4 kali lebih besar dibandingkan korban laki-laki.

Pada kondisi pasca bencana, perempuan, anak, dan kelompok rentan lainnya seperti lansia terkadang mengalami kekerasan berbasis gender, misalnya pada proses evakuasi, sistem keamanan pengungsi, ruang privasi, dan pemenuhan hak kebutuhan dasar.

Kondisi-kondisi tersebut membuat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) merasa perlu untuk memberi perhatian terhadap kelompok perempuan, utamanya lansia.

Melalui aksi nyata, Kemen PPPA melaksanakan ’Gerakan 1.000 Perempuan Peduli Bencana dan Lansia Merawat Lingkungan’ pada Minggu (14/10) pagi, di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat.

Guna melindungi kaum perempuan dan anak yang rentan menjadi korban situasi darurat kemanusiaan dan bencana, gerakan tersebut juga sebagai bentuk partisipasi perempuan dan lansia Indonesia, dalam rangka Hari Lanjut Usia Internasional 2017 pada setiap bulan Oktober.



Diawali dengan senam bersama, sebanyak 1.000 peserta perempuan dan lansia disuguhi penampilan teatrikal dari komunitas lansia, edukasi, dan sosialisasi tentang membangun kewaspadaan menghadapi bencana dengan menjaga lingkungan, serta pembagian 1.000 bibit pohon.

“Pada kondisi bencana, anak-anak dan kelompok rentan lainnya, seperti perempuan dan lansia menjadi korban paling banyak. Maka dari itu, kami mengumpulkan para lansia untuk untuk saling berbagi pengalaman terutama mereka yang pernah mengalami kondisi bencana," ujar Menteri PPPA, Yohana Yembise.

Hal tersebut juga sebagai bentuk perhatian dan komitmen Pemerintah untuk memperhatikan kelompok rentan, seperti perempuan dan lansia dengan meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan mereka apabila terjadi bencana.

"Kegiatan ini tidak akan berhenti sampai di sini, kami berencana akan melakukan acara yang lebih besar dan lebih massif lagi sehingga masyarakat mengetahui bahwa lansia mendapat perhatian khusus dari negara,” kata menteri.

Menteri Yohana menambahkan, untuk memberikan bentuk penanganan yang tepat bagi pencegahan dan penanganan kelompok rentan korban bencana dibutuhkan data-data yang lengkap.

Sehubungan itu, Kemen PPPA berencana melakukan kerja sama dengan BPS melakukan survey untuk menyusun profil lansia di Indonesia.

Pada kegiatan yang dilaksanakan Kemen PPPA tersebut, sejumlah peserta juga berkesempatan berdialog langsung dengan Menteri Yohana terkait kondisi yang dihadapi lansia saat ini. Mereka juga menyampaikan rasa sangat senang dan terima kasih karena merasa diperhatikan oleh pemerintah.

“Di media, jika terjadi bencana baik di luar negeri maupun di dalam negeri yang kita lihat kebanyakan adalah lansia, dan itu harus menjadi perhatian. Kegiatan ini salah satunya bertujuan utuk mendengar langsung kondisi dan harapan lansia sehingga pemerintah bisa menindaklanjuti upaya yang dapat dilakukan untuk melindungi kelompok rentan di Indonesia karena indikator suatu negara dianggap maju, salah satunya adalah jika perempuan, anak, lansia, dan disabilitas diperhatikan,” kata menteri.