Dinkes Ambon Temukan 23 Kasus Kaki Gajah

Ambon, 16/10 (Antara Maluku) - Dinas Kesehatan kota Ambon mendata sebanyak 23 warga kota Ambon positif menderita penyakit kaki gajah atau filariasis.

"23 penderita kaki gajah mengalami pembengkakan kaki bertahun-tahun dan diketahui setelah dilakukan pemeriksaan darah," kata Plt Kepala Dinas kesehatan Kota Ambon, Nurhayati Yasin di Ambon, Senin.

Warga yang menderita penyakit kaki gajah mengalami pembengkakan pada kaki dan tangan, khusus untuk laki-laki terjadi pembengkakan pada buah zakar.

Menurut Nurhayati, pengobatan dan pencegahan filariasis telah dilakukan sejak tahun 2008 hingga 2013, kemudian dilanjutkan hingga tahun 2019.

Proses pengobatan penyakit kaki gajah membutuhkan waktu lima tahun berturut-turut untuk mengobati penyakit yang disebabkan karena cacing tersebut.

"Penderita kaki gajah yang mengalami pembengkakan pada kaki atau tangannya atau perempuan yang mengalami pembesaran di payudara, sedangkan laki-laki dibuah zakarnya menandakan penyakit tersebut sudah kronis," ujarnya.

Nurhayati mengatakan obat filariasis diberikan untuk pencegahan dan pengobatan, sehingga orang sehat juga harus minum obat itu untuk mencegah penyakit kaki gajah bersarang di tubuh.

Pihaknya juga telah membagikan obat Dietil Carbamazepine (DEC), Albendazol dan Paracetamol yang bisa diperoleh secara gratis di semua puskesmas yang berfungsi untuk membunuh segala jenis cacing dari dalam tubuh.

"Kami juga berharap masyarakat datang ke puskesmas terdekat agar diberi obat. Pemberian obat akan dilakukan melalui pemeriksaan lengkap. Untuk pencegahan, akan diberikan kepada yang sehat," tandasnya.

Dinas Kesehatan telah mencanangkan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) sebagai upaya mewujudkan Indonesia bebas penyakit tersebut pada 2019.

Secara nasional pemerintah pusat menetapkan 1 Oktober 2015 sebagai Bulan Eliminasi Kaki Gajah di seluruh Indonesia dan dilanjutkan hingga tahun 2019.

Ia menambahkan obat yang diberikan pemerintah tidak semuanya bisa dikonsumsi, karena ada penderita tertentu yang tidak bisa mengkonsumsi obat ini seperti ibu hamil dan pasien penyakit jantung kronis serta epilepsi.

"Ada aturan dan petunjuk yang akan diberikan oleh dokter ketika lakukan pemeriksaan ke puskesmas dan rumah sakit, yang terpenting adalah bagaimana menjaga kebersihan lingkungan sekitar," kata Nurhayati.