Peneliti IPB Sosialisasi "Suritech" di Ambon
Sabtu, 29 Mei 2010 14:50 WIB | 906 Views
Tim peneliti Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor menyosialisasikan hasil riset pemanfaatan teknologi pemisah daging dan tulang ikan atau "suritech" di atas sebuah kapal di Ambon, Sabtu.
Acara yang difasilitasi Dinas Koperasi dan UMKM Maluku dan Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku itu ditujukan khususnya kepada pengusaha pelayaran dan penangkap ikan.
Sosialisasi itu sendiri merupakan tindaklanjut dari hasil riset di Laut Arafura selama September-Oktober 2009.
Ketua tim peneliti, Prof Dr Ari Purbayanto, mengatakan, penerapan "suritech" di atas kapal untuk antara lain pembuatan surumi, yakni lumatan daging ikan yang telah mengalami proses pencucian dengan air dingin dan dihilangkan sebagian kadar airnya.
"Riset di laut Arafura mencatat, sekitar 80-90 persen ikan sampingan dibuang sehingga mengancam ekosistem laut dan menimbulkan kerugian negara triliunan rupiah," ujarnya.
Diungkapkan, Purbayanto, ikan sampingan yang dibuang itu mencapai 132.000 ton, dan dengan taksiran satu kilogramnya bernilai Rp15 ribu, maka negara mengalami kerugian sekitar Rp2 triliun.
"Bila ikan sampingan itu dikelola menjadi surimi dengan harga jual 5 dolar AS per kg, maka penyianyiaannya membuat negara kehilangan pemasukan sekitar Rp4 triliun," katanya.
"Ekses lainnya adalah pencemaran laut akibat bangkai ikan yang membusuk dan mengganggu ekosistem sumber daya hayati laut," katanya.
Pemanfaatan "suritech" di atas kapal, yang memanfaatkan armada penangkapan ikan milik PT Surya Agung Cemerlang (SAC), memperlihatkan kualitas atau mutu surumi lebih baik karena ikannya masih segar, ketimbang bila sudah dibawa ke darat.
Sosialisasi "suritech" di Ambon akan ditindaklanjuti dengan pelatihan, dijadwalkan pada September atau Oktober 2010, dengan memanfaatkan dua mesin yang secara intensif disempurnakan melalui kerja sama dengan PT Samudera Teknik Mandiri.
Dikatakan, sedikitnya 40 unit "suritech" telah dimanfaatkan di sejumlah provinsi sejak teknologi ini mulai dikembangkan tahun 2006.
"Dekan Fakultas Perikanan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon sudah memesan satu unit untuk praktek mahasiswa, dua unit bantuan dari Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional akan diberikan ke Maluku untuk dikelola PT SAC dan PT Perikanan Nusantara," kata Purbanyanto.
"Investor dari Vietnam dan Kamboja juga telah memesan, setelah mereka membandingkannya dengan produksi dari China," tambahnya.Editor:
COPYRIGHT © 2012