Pala hutan yang tumbuh liar di Pulau Romang, Kabupaten Maluku Barat Daya, saat ini menjadi primadona warga setempat sebagai salah satu sumber penghasilan sampingan.

"Biji dan fuli pala hutan di pulau ini memiliki kualitas yang tidak kalah dengan pala Banda, karena ukuran buahnya yang besar dan panjang," kata Olof Uniweckly, warga Romang yang dihubungi dari Ambon, Jumat.

Ia menjelaskan, harga satu kilogram fuli pala hutan mencapai Rp80.000 per kg. Sedangkan biji pala basah Rp40.000 dan biji pala yang dikeringkan bisa mencapai Rp50.000 per kg.

Menurut Uniweckly, pala tersebut biasa dikumpulkan warga di tengah hutan dan menjualnya ke pedagang pengumpul kemudian diangkut ke Surabaya (Jatim).

Dikatakannya, seorang warga yang rajin mampu mengumpulkan biji pala hingga mencapai 0,5 ton karena buah yang dihasilkan cukup banyak dan tumbuh liar di tengah hutan Pulau Romang yang memiliki tambang emas dan tembaga tersebut.

Karena tahu bahwa pohon pala itu bernilai ekonomis, katanya, warga pernah mencoba membudidayakannya dalam bentuk perkebunan. Namun pertumbuhan pohon itu tidak baik.

"Warga pernah mencoba membudidayakan pohon pala yang buahnya memiliki ukuran dan kualitas sama seperti yang dikembangkan di Pulau Banda dalam bentuk perkebunan, tapi pohonnya tidak tumbuh secara baik," katanya.

Selain Pulau Romang yang terkenal sebagai penghasil madu dan penyu yang ditumbuhi pala hutan secara liar, pohon ini juga ditemukan tumbuh subur di hutan Pulau Damer dan Pulau Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya.

"Mata pencaharian warga lebih banyak sebagai petani dan nelayan, namun musim buah pala hutan sejak akhir September hingga awal Desember biasanya djadikan sumber penghasilan sampingan bagi biaya pendidikan anak-anak mereka," katanya.

Editor:
COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Kirim Komentar