Gubernur Minta Pemuda Tolak Kekerasan

Ambon (Antara Maluku) - Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu meminta kalangan pemuda di daerah itu untuk "menutup pintu" atau menolak berbagai bentuk kekerasan yang menimbulkan korban.

"Pemuda harus berani menyatakan 'tutup pintu' terhadap berbagai bentuk kekerasan karena pemuda adalah pionir pembangunan terutama membangun persaudaraan sejati di Maluku," kata Gubernur Ralahalu,dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan kepala Kesbangpol Maluku, AR. Uluputty, saat deklarasi Perdamaian Persatuan Pemuda Pela-Gandong Maluku, yang dipusatkan di monumen Gong Perdamaian Dunia, Ambon, Senin.

Menurut Ralahalu, kekerasan masih dipandang oleh segelintir orang di tanah air termasuk Maluku sebagai suatu hal yang biasa, padahal dampaknya dapat merugikan banyak orang.

Ia menegaskan, masih dibutuhkan waktu panjang dan kerja keras semua pihak untuk mewujudkan perdamaian dan persaudaraan yang sejati antarmasyarakat di Maluku.

"Kendati kondisi keamanan di Maluku telah kondusif dan aman, tetapi masih dibutuhkan waktu panjang untuk mewujudkan pesaudaraan dan kekeluargaan yang sejati antarseluruh komponen masyarakat," katanya.

Dikatakan, generasi muda saat ini harusnya merasa "malu" terhadap para leluhur yang mampu menanamkan nilai-nilai persatuan dan persaudaraan yang tercermin pada budaya Pela-Gandong.

"Kita semua seharusnya malu dengan para leluhur karena ternyata mereka mampu membangun rasa kebersamaan dan persaudaraan sejati tanpa memandang berbagai perbedaan, di mana budaya Pela-Gandong ini masih tetap lestari dan mengakar di tengah-tengah masyarakat Maluku," tandas Gubernur Ralahalu.

Gubernur Ralahalu memberikan apresiasi besar terhadap pembentukan Persatuan Pemuda Pela-Gandong Maluku, dengan tujuan menggelorakan semangat persatuan dan persaudaraan di kalangan generasi muda.

"Ini langkah positif yang dilakukan pemuda untuk membendung berbagai bentuk kekerasan dan perselisihan di tengah-tengah masyarakat, sekaligus mewujudkan rasa persaudaraan tanpa memandang perbedaan," katanya.

Dia berharap, gerakan Pela-Gandong yang dilakukan ini dapat menyentuh dan diikuti berbagai komponen masyarakat di daerah ini, termasuk para pendatang, sehingga tidak ada lagi kekerasan serta kedamaian hakiki dapat tercipta di provinsi seribu pulau itu.

Deklarasi

Deklarasi Perdamaian Persatuan Pemuda Pela-Gandong Maluku yang dipusatkan di monumen Gong Perdamaian Dunia itu diprakarsai Badan Eksekutif Mahasiswa (BM) se-Maluku, BEM se-Jabotabek, BEM Perguruan Tinggi (PT) Muhammadiah se-Indonesia dan BEM se-Nusantara.

Dalam deklarasinya Persatuan Pemuda Pela Gandong Maluku yang merupakan bagian dari gabungan berbagai BEM itu menyatakan bahwa pela gandong merupakan kearifan lokal masyarakat Maluku yang diwariskan para leluhur, perlu dijadikan modal sosial hidup orang basudara.

Budaya ini harus direaktualisasikan dan direvitalisasi menjadi kekuatan perekat dalam hidup dan kehidupan seluruh masyarakat Maluku serta persatuan dan kesatuan nasional guna menjaga keutuhan NKRI.

Mereka juga beranggapan bahwa kondisi aman, damai dan harmoni yang tercipta di Maluku saat ini merupakan hasil kerja keras semua elemen paska konflik 1999-2004, di mana berbagai kemajuan di berbagai sektor harus dipandang sebagai momentum kebangkitan Maluku baru.

Urgensi pelestarian budaya Pela Gandong adalah proyek bersama seluruh anak negeri untuk menciptakan Maluku yang sejahtera, aman dan bermartabat.

BEM se-Maluku, BEM se-Jabotabek, BEM perguruan tinggi Muhammadiyah se-Indonesia dan BEM se-Nusantara yang pimpinannya berasal dari Maluku dan lingkup nasional, bersepakat terus mengawal serta menjaga nilai-nilai Pela Gandong dalam berbagai sendi kehidupan baik internasional maupun eksternal.

Pemuda Pela Gandong Maluku akan dijadikan wadah berhimpun generasi muda muda provinsi itu dalam rangka melestarikan nilai-nilai adat dan kebangsaan menuju perdamaian hakiki di provinsi yang dijuluki negeri raja-raja itu.