Warga Ternate Sulit Memperoleh Masker
Ternate (Antara Maluku) - Warga Ternate, Maluku Utara (Malut) mengeluhkan sulitnya memperoleh masker yang sangat mereka butuhkan untuk melindungi pernapasan dari abu vulkanik letusan Gunung Gamalama."Saya sudah ke posko penanggulangan letusan Gunung Gamalama, tapi masker sudah habis, juga sudah cari ke seluruh toko dan apotik telah habis," kata warga Ternate, Khalik Tjokro, Selasa.
Sulitnya memperoleh masker itu mengakibatkan banyak warga terpaksa enggan keluar rumah, meski ada urusan penting, karena khawatir abu vulkanik letusan Gunung Gamalama akan mengganggu kesehatan.
Ia mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate dan instansi terkait lainnya di daerah ini seharusnya selalu menyediakan masker dalam jumlah besar, karena di Ternate ada gunung api masih aktif.
Pemkot Ternate tampaknya beranggapan bahwa Gunung Gamalama tidak akan meletus, sehingga tidak menyediakan masker minimal sesuai jumlah penduduk di kota ini.
"Sekarang Gunung Gamalama meletus, ketika warga membutuhkan masker Pemkot berdalih stok sudah habis, itu menunjukkan bahwa mereka tidak menyiapkan sejak awal," katanya.
Sementara itu, sejumlah toko dan apotik di Ternate memanfaatkan terbatasnya masker tersebut untuk mencari keuntungan besar dengan cara menaikkan harga masker dari Rp1000 per buah Rp5000 per buah.
Warga di Ternate tidak memperdulikan melonjaknya harga masker itu, terbukti saat ini tidak ada lagi apotik dan toko yang memiliki stok masker.
Sementara itu, Kadis Kesehatan Pemkot Ternate Nurbaiti Radjabessy mengakui stok masker di posko sangat terbatas (tidak dirinci), namun telah dibagikan seluruhnya kepada pengungsi korban letusan Gunung Gamalama.
Pemkot Ternate dan pemilik apotik di Ternate kesulitan untuk memesan masker dari Jawa, karena sejak kemarin tidak ada penerbangan masuk ke Kota Ternate, kalau pesan melalui jasa transportasi laut lebih dari sepekan.
Terus Semburkan Abu
Sementara itu, Gunung Gamalama terus menyeburkan abu vulkanik, namun frekwensinya menurun jika dibandingkan dengan hari sebelumnya.
"Hingga Selasa sore ini (Selasa - red), terjadi tiga kali semburan abu vulkanik dari puncak Gunung Gamalama dengan ketinggian 500-700 meter," kata Kepala Pos pengamatan Gunung Api Gamalama, Darno Lamane di Ternate, Selasa.
Gunung setinggi 1.700 meter dari permukaan laut itu meletus pada Minggu (4/12) malam. Pada Senin (5/12) gunung itu menyemburkan abu vulkanik sebanyak lima kali.
Menurut Darno, semburan abu vulkanik Gunung Gamalama hari ini terbawa angin menuju arah selatan sehingga daerah di wilayah selatan Ternate terkena abu vulkanik gunung itu.
Bahkan sejumlah wilayah di Kota Tidore Kepulauan terletak pada bagian selatan dari Gunung Gamalama juga ikut terkena abu vulkanik sehingga mengganggu aktivitas masyarakat setempat.
Ia mengatakan, gempa tremor juga masih tercatat pada alat pemantau aktivitas Gunung Gamalama, namun frekwensinya menurun jika dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Status gunung yang terletak di tengah Pulau Ternate itu masih tetap Siaga atau level III dan belum bisa dipastikan apakah aktivitas vulkaniknya akan menurun atau meningkat hingga ke status Awas.
"Kami belum bisa pastikan perkembangan selanjutnya dari aktivitas Gunung Gamalama itu, untuk itu kami imbau kepada masyarakat Ternate tetap waspada, tapi jangan panik," katanya.
Meletusnya Gunung Gamalama tersebut mengakibatkan 1.206 jiwa warga di sejumlah daerah rawan, terpaksa harus diungsikan ke sejumlah tempat penampungan yang disiapkan oleh Pemkot Ternate, seperti di eks Kantor Gubernur Malut dan mes Persiter.
Belasan rumah warga di wilayah Tubo, Kecamatan Ternate Utara juga mengalami rusak berat dan rusak ringan, bahkan ada tiga rumah hanyut akibat dihantam banjir lahar dingin dari letusan Gunung Gamalama.